.Catatan Harian Ana.

CERPEN ana..

Posted on: Februari 9, 2010

“Kecelakaan Terindah”

Matahari pagi mulai memasuki celah-celah jendela kamarku. Matahari yang kian bersinar membuat hari-hariku menjadi indah dan bermakna. Aku Rasti, seorang siswi salah satu SMP di Bandung. Aku punya keluarga yang harmonis. Setiap hari keluargaku menyempati untuk bersama. Aku bangga sekali dengan keluargaku. Walaupun hidupku sederhana tapi aku merasa hidupku selalu indah dan lebih dari kesederhanaan yang aku punya.

Rutinitas hari-hariku, seperti biasa pagi-pagi berangkat ke sekolah untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang pelajar. Dan pulang pada siang hari lalu berangkat les. Bila libur aku menyempatkan waktu luang untuk keluarga atau teman-teman. Bukan untuk pacar. Karena aku memang tak punya seorang yang spesial dalam hidupku. Dulu aku berpikir hidup ini indah bila ada seorang di sampingku, tapi setelah mendengar cerita teman-temanku tentang begitu sakitnya patah hati dan di sakitin cowok, aku berhenti memikirkan hal itu. Oleh karena itu, saat ini aku hanya ingin menikmati masa-masa kesendirian yang indah dan menyenangkan, sampai pada waktunya aku akan membuka hati ini kepada orang yang sangat tepat.

Tahun demi tahun berganti dan dilalui bulan yang terus berganti, dan searahnya jalannya waktu. Aku menjalani hidup dengan semua rutinitas. Sampai pada akhirnya tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini:  jatuh cinta!

Ia les di tempat les yang sama dengan ku. Ia tidak tampan. Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki yang mudah akrab. Dingin dan penuh dengan keseriusan. Tapi dia pintar! Itu yang aku suka darinya. Aku sering mencuri pandang melihat wajah seriusnya tanpa sepengetahuannya. Keningnya yang berkerut dan kebiasaanya memukul-mukul pensil pada pelipisnya saat berfikir, membuatnya terlihat tampan di mataku.

Seperti biasa, pulang sekolah aku langsung pulang ke rumah, makan lalu berangkat les. Sesampainya di tempat les, guru les bahasa ku, Pak Teguh menyurhku untuk mengikuti tes. Aku hanya cemberut dan menggerutu dalam hati, “Kok tes sih?”. Di tempat les bahasa ini, siswanya tidak dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan, tapi dari banyak tidaknya materi bahasa Inggris yang sudah diberikan.

Tes hari ini adalah tes listening, ada lima peserta, namun tak satupun peserta tes yang ku kenal di ruangan itu, termasuk kakak pintar itu. Pak teguh menyuruh kami mendengarkan dan menulis kalimat yang di ucapkan oleh seseorang dari dalam kaset. Setelah selesai, pak teguh menyuruh kami untuk membaca kalimat yang sudah kami tulis tadi. Pembacaan dimulai dari sebelah kiri. Di mulai dari kakak pintar berseragam putih biru yang tak ku tahu siapa namanya. Sampai dengan yang terakhir adalah aku. Sedikit ragu-ragu, aku membacakan kalimat yang berbeda dengan keempat kakak tadi. Namun ternyata, aku yang benar. Pak Teguh yang membenarkannya. Hikmah dari mengikuti tes tadi, aku jadi tahu nama kakak pintar itu. Namanya Rio. Aku tahu saat Pak Teguh memanggilnya.

Esoknya, saat aku sampai di tempat les, kejadian yang tak pernah terbayangkan olehku pun terjadi. Kak Rio tersenyum padaku. Aku pun membalasnya dengan senyum ragu-ragu. Begitulah aku, aku selalu bertindak aneh saat laki-laki (tidak termasuk ayahku) menyapaku. Ketika aku mengeluarkan buku catatan, dia menghampiriku. Dia bertanya “Apa ada PR bahasa Inggris yang susah di sekolah?”. Dengan terbata-bata aku menjawab “Ti..tidak. Tapi ada PR ini , kak!” (seraya memperlihatkan PR ku. Dia menanggapi dengan keningnya yang mengerut) “Oh.. ini mudah kok, asalkan kamu tahu rumus kalimatnya, kamu bisa mengerjakannya.”. “Tapi masalahnya, Pak Teguh belum mengajarkan yang seperti ini,  kak.” jawabku. “Baiklah, aku akan mengajarkan sedikit untukmu, selebihnya sama Pak Teguh, ya!” jawabnya. “Oke!” tambahku. Tak kusangka, sekarang hidungku hanya berjarak 10 senti dengan hidungnya. Sambil mengajarkanku, dia juga tersenyum padaku lho!. “Oh, betapa senangnya hari ini” gerutuku dalam hati.

Aku dan Kak Rio sudah semakin akrab. Ternyata jika sudah mengenalnya, dia seseorang yang sangat menyenangakan. Dia cerita banyak tentang pengalaman hidupnya padaku. Dia seperti sudah mempercayaiku untuk menjadi teman curhatnya. Aku juga terkadang menceritakan pengalamanku. Obrolan antara kami pun terhenti oleh suara dering handphone Kak Rio. Kak Rio mengangkatnya sambil menjauh dariku. Sampai saat ia kembali, ia tersenyum padaku dan mengatakan “Kakak pergi duluan ya! My girlfriend, minta anter belanja ke supermarket. Besok kita ketemu lagi. Bye!” Aku hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala. My girlfriend? Artinya kan pacar! Apa Kak Rio sudah punya pacar? Hatiku terasa tersayat pisau berkarat mendengar kata itu. Sakit sekali!

Sesampainya di kamarku. Aku termenung. Aku merasa berharap terlalu banyak dari Kak Rio. Aku boleh menyukainya, tapi tidak untuk memilikinya. Apalagi dia sudah punya pacar, aku harus menjaga jarak dengannya. Ingin sekali aku cerita pada mama tentang hal ini, namun aku ingin belajar memecahkan masalahku sendiri. Esoknya di sekolah, aku sangat tidak bersemangat untuk belajar. Sampai di tempat les, Kak Rio menyapaku seolah tidak ada kejadian apa-apa kemarin. Dia menyuruku duduk. Sambil memangku gitar, dia bertanya “Apa kamu suka bernyanyi?”. “Sedikit.” jawabku. “Berarti kamu bisa bernyanyi, coba nyanyikan lagu Cinta Terlarang dari The Virgin, aku akan iringi dengan gitarku.”. “Tapi aku tak bisa, suaraku tak terlalu bagus. Aku akan tulis syairnya, nanti kakak nyanyikan sendiri, bagaimana?” tawarku. “Baiklah, tapi akan lebih indah jika aku mengiringi kamu bernyanyi dengan gitar.” jawabnya. Aku tidak bernyanyi. Entah kenapa, aku jadi lupa semua syair lagu itu. Tak ada kata-kata yang bisa aku tulis tentang lagu itu. Aku lupa! Aku hanya terus memperhatikan Kak Rio memainkan gitar. Setelah lagunya selesai, dia berkata “Aku suka kamu, kamu itu lucu, beda dari cewek lainnya. Kamu pinter, nyaman untuk di ajak ngobrol dan yang paling aku suka kamu satu-satunya cewek yang bisa buat aku nyaman di deket seseorang. Aku tahu, dulu kamu suka memperhatikan aku. Kenapa? Aku ganteng ya?” tanyanya. ”Bukan. Jujur, menurutku kakak nggakBe carefull.” terlalu ganteng. Aku suka, karena wajah kakak manis kalau lagi berfikir, apalagi ketika kening kakak mulai megerut, Lucu!” jawabku.  “Oh, masa? Kamu mau jadi sahabat cewek kakak?”.”Oh, Tentu saja.” tangkasku. “Besok mungkin kakak sudah tidak les disini lagi. Kakak mau pindah rumah ke Bengkulu. Tapi, kakak tidak akan melupakanmu.” jelasnya. “Ayo, ini sudah waktunya pulang. Aku akan antarkan kamu sampai depan.”lanjutnya. Setelah mengemasi barang-barangku, aku berpamitan pada Pak Teguh. Aku di tuntun Kak Rio menyebrangi jalan. Bus umum pun datang. Aku berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada Kak Rio. Saat aku naik bus, Kak Rio berkata “

Pertemuan tadi terasa cukup mengejutkan, tapi entah mengapa, aku tidak sedih mendengar kata perpisahan itu.

Lagi-lagi rutinitas membuatku lupa akan segala hal yang dahulu terjadi. Aku pun mulai melupakan peristiwa itu. Aku hanya ingin menjalani hidup ini dengan lurus-lurus saja. Bila memang aku sudah waktunya diberikan jodoh oleh Tuhan, pasti aku tak akan mengelaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: