.Catatan Harian Ana.

Rute Pulang Sekolah

Posted on: Maret 20, 2010

Kemarin aku baru memulai ujian di sekolah. Di depan kelas ada seseorang memandangi bagde namaku. Seusai ujian, ia memanggilku dan bilang, “Mbak, kamu dicariin X dari SMA Y.”

Aku memandanginya bingung sambil mencerna kata-katanya. Sesaat aku tersadar, lalu menjawab, “Ohh. Iya kenapa?”

Jawaban selanjutnya aku tak mendengarkan. Lututku lemas, nyawaku entah kemana. Ternyata kamu masih mencariku. Meski aku tidak tahu detilnya, tapi aku senang sedikitnya kamu masih memikirkanku.

***

Hari ini ujian sekolah selesai. Besok libur, tapi akan dilanjutkan dengan ujian pemkot hari Kamis nanti. Senang sekali besok bisa di rumah. Ditambah, tadi kakakku menjemputku di sekolah.

Tidak seperti biasanya, rute pulang sekolah ini agak berbeda. Simpang lima, Undip, dan Pleburan.., sungguh suasana yang sangat kukenal. Karena rute ini adalah rute favoritmu saat menjemputku.

Saat hanyut oleh lamunan, kakak berhenti di depan sebuah toko buku. Ia akan meninggalkanku di situ untuk urusannya di suatu tempat.

“Ini, belilah buku. BUKU, jangan komik,” kata kakak sambil memberikan dua lembar uang bergambar I Gusti Ngurah Rai.

Tapi karena tak tega melihat tatapan kecewaku, kakak buru-buru menambahkan, “Yah, kalo sisa boleh beli komik deh.”

Aku pun bersorak, lalu langsung masuk ke dalam. Sayang sekali aku hanya bisa menemukan 2 dari 4 nomor komik yang kucari. Aku juga menemukan satu buku komik indonesia. Kemudian, untuk bukunya, aku mengambil novel semi-klasik jepang yang berkover lucu.

Setelah membayar, aku menunggu di depan toko. Di situ aku membaca sampai pegal. Dan aku pun tersadar, bahwa menunggu itu sangat melelahkan.

Tapi kenapa, saat itu aku ngga keberatan menunggumu ya?

***

Kenangan kita bangkit sangat jelas siang ini. Terutama rute perjalanan pulang itu. Di mana hari terakhir kamu menjemputku, aku menangis. Dan aku hanya sekilas memandang wajahmu tanpa kacamata, yang legam oleh matahari Bali. Di mana aku sempat memelukmu sebentar, dan itu jadi pelukan terakhirku sebelum kita berpisah.

Kini aku jalani hidupku, kamu jalani hidupmu. Kita punya hidup masing-masing dan kita tidak perlu saling mengganggu. Tapi aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi. Setidaknya, itu harapanku.

Aku tahu, memang bodoh masih memikirkan semua ini. Memang bodoh karena aku ngga bisa sok angkuh memungkiri yang terjadi. Tapi haruskah aku berbohong?

Tidak.

Karena aku juga terlalu bodoh untuk mencoba berbohong.

original writer : Rayna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: